Selasa, 12 Maret 2013

Babad Bumi Cahyana




Jauh sebelum Wirasaba dan Onje berdiri, apalagi Purbalingga, di Cahyana, Kecamatan Karangmoncol telah berdiri pusat pemerintahan yang solid dan disegani. Diperkirakan mulai dirintis sekitar tahun 1450, atau 559 tahun yang lalu. Purbalingga berusia 179 tahun maka selisihnya 380 tahun.

Adalah seorang Putra Kerajaan Pajajaran yang bernama Raden Liman Sujana. Walau turunan raja, dengan tegas ia menolak untuk duduk di Kabinet Pajajaran Bersatu. Ia memperkirakan dengan pasti bahwa Pajajaran akan segera runtuh. Pajajaran saat itu mengalami masa transisi karena masuknya Agama Islam. Ia mengembara ke daerah Banten dan bertapa di bukit batu karang di bawah pohon jambu. Di saat bertapa ternyata ada ajakan gaib, berupa cahaya, yang seperti menuntun jiwa dan raganya. Raden Liman Sujana kemudian berjalan menyusuri pantai utara Pulau Jawa. Kira-kira sampai di daerah Tegal, ia membelok ke selatan. Cahaya gaib menuntunnya terus untuk menuju ke selatan dan sampai ke sebuah bukit yang bernama Gunung Munggul. Dan di Gunung Munggul ini, ia melihat orang yang sedang naik (menek) pohon kelapa sambil menggendong seorang anak. Indra kewaskitaannya terusik untuk mengenal sang pemanjat pohon. Maka terungkaplah bahwa sang pemanjat pohon itu bernama Ki Kelun, rumahnya di desa Wanakasimpar, anak perempuan yang digendongnya bernama Rubiah. Ki Kelun sayang sekali kepada Rubiah sehingga Rubiah digendongnya kemana-mana.

Cahaya gaib yang menuntun R. Liman Sujana menghilang. Menyadari hal tersebut beliau menetapkan diri untuk tinggal di desa Wanakasimpar yang saat itu masih berupa hutan. Ia bertekad untuk membaktikan dirinya bagi lingkungan Gunung Munggul. Anak Ki Kelun si Rubiah diambil sebagai anak angkat, namanya diperpanjang menjadi Rubiah Bhakti. Wanakasimpar pun berubah menjadi Cahyana, barangkali dari kata “ana cahya, cahya ana”.

Keberadaan R. Liman Sujana membuat Cahyana menjadi sebuah desa yang maju dan menarik orang untuk ikut mukim di sana. Cahyana berkembang layaknya sebuah kadipaten dengan R. Liman Sujana sebagai pusatnya. Banyak juga pendatang dari luar daerah. Salah seorang di antara mereka adalah keturunan Arab, bernama Rakhmat. Dia berterus terang bahwa salah satu maksudnya datang ke Cahyana adalah untuk menyebarkan Agama Islam. Ia berniat agar Islam merata di Tanah Jawa.

Maksud tersebut menjadikan R. Liman Sujana tidak suka, namun ia adalah tokoh yang bisa menahan diri. Maka dengan caranya R. Liman Sujana pun minta secara baik-baik untuk mencoba dan mengadu kesaktiannya dengan Rakhmat. Hasil akhirnya, ia harus mengakui bahwa Rakhmat lebih sakti dibanding dirinya. Dengan penjelasan Rakhmat tentang Islam, R. Liman Sujana bersedia menjadi muslim, ia merasuk Agama Islam. Sang anak angkat, Rubiah Bhakti, yang telah dewasa pun dinikahkan dengan Rakhmat. Keberadaan dua tokoh ini menjadikan nama Cahyana semakin melambung sebagai wiyata mandala, tempat belajar Agama Islam, pesantren.

Rakhmat kemudian meninggalkan Cahyana dan menetap di sebuah tempat yang diberi nama Rajawana --Wanakasimpar bergeser menjadi Rajawana, masih ada “wana”-nya--. Namun saat itu secara regional nama Cahyana lebih menonjol daripada Rajawana. Agama Islam pun berkembang pesat di daerah tersebut. Kedua tokoh pendatang ini terkenal dengan sebutan syekh, artinya orang yang ahli dalam hal pengetahuan Agama Islam. Tata pemerintahan pun dijalankan sesuai dengan ajaran Islam. Tidak ada istilah adipati, patih, tumenggung, dan sebangsanya! Nama Liman Sujana disesuaikan menjadi Imam Sujana, berdasarkan riwayat saat awal bertapa, ia memilih gelar sebagai Syeh Jambu Karang. Sang menantu angkat, tetap sesuai dengan gelar awalnya yaitu Syekh Wali Rakhmat.

Pernikahan Syekh Wali Rakhmat dengan Rubiah Bhakti, menurunkan tiga putera dan dua orang puteri.
  1. Pangeran Makhdum Kusen, makamnya di Rajawana
  2. Pangeran Makhdum Madem, makamnya di Cirebon
  3. Pangeran Makhdun Umar, makamnya di Pulau Karimunjawa
  4. Nyai Rubiah Razak, makamnya di Ragasela, Pekalongan
  5. Nyai Rubiah Sekar, makamnya di Jambangan, Banjarnegara.
Syeh Wali Rakhmat sampai ke wilayah Purbalingga sekitar lima puluh tahun sebelum Demak berdiri. Bersama Syeh Jambu Karang membangun Cahyana. Rajawana berkembang menjadi pusat pendidikan Agama Islam.  Namun demikian nama Cahyana lebih kesohor daripada Rajawana. Ketika Syeh Wali Rakhmat merasa telah cukup dalam menyampaikan pengetahuan Agama Islam, ia memberi kesempatan kepada putra dan putrinya untuk meneruskannya. Syeh Wali Rakhmat yang saat itu sudah berusia senja, mohon diri dan kembali ke negara asalnya, Arab. Pangeran Makhdun Kusen, puyta sulungnya, kemudian dipercaya memimpin pesantren Rajawana, di Cahyana ini.

Cahyana yang berada di kaki pegunungan, antara Gunung Dieng dengan Gunung Slamet (disebut juga Gunung Gora) adalah wilayah yang jauh dari ibukota kerajaan. Baik kerajaan di wilayah barat, Kerajaan Sunda, maupun yang berada di sebelah timur, kerajaan Majapahit. Kedua kerajaan menganggap wilayah di lembah Sungai Serayu dan Sungai Klawing ini adalah milik mereka. Garis batas yang tidak jelas menjadikan Cahyana dianggap sebagai bagian dari Kerajaan Sunda dan juga Kerajaan Majapahit. Namun para wali penyebar Agama Islam berada di wilayah Majapahit sehingga menjadikan Cahyana lebih condong ke Majapahit. Kemasyhuran Cahyana sampai ke Kerajaan Sunda, Prabu Niskalawastukancana, seorang raja yang bertahta sampai 104 tahun (1371 – 1475) mengutus prajuritnya pergi ke Cahyana. Mengharap agar Pangeran Makhdun Kusen bersedia menghadap ke Kerajaan Sunda. Menurutnya Cahyana adalah milik Kerajaan Sunda. Pangeran Makhdun Kusen menolak, tidak bersedia ke Sunda, ia berpendirian bahwa bumi ini adalah milik Allah SWT, bukan milik Raja Sunda yang dianggapnya masih kafir. Cahyana justru akan bergabung dengan para wali yang berada di Majapahit.

Gejala separatisme ini menjadikan Prabu Niskalawastukancana marah. Dikirimkannya satu pasukan besar prajurit pilihan untuk menggempur Cahyana, tepatnya mengempur Rajawana. Berita kedatangan prajurit Sunda ketahuan oleh Pangeran Makhdum Kusen sebelum sampai ke Rajawana, Karena sebuah pesantren maka Rajawana tidak punya prajurit, yang ada adalah para santri dan sahabat-sahabatnya. Setelah shalat ashar, para santri dikumpulkan. Santri putra disuruh mengawasi rumah-rumah penduduk agar jangan sampai dirusak. Santri Putri ditugaskan untuk bersiap menyambut prajurit Sunda dengan cara menabuh rebana di belakang pintu gerbang. Rebana bukan sembarang rebana, tapi rebana yang telah dibuat menjadi “luar biasa” berkat doa Pangeran Makhdun Kusen.

Pada saat menjelang magrib, di saat Pasukan Prajurit Sunda mempersiapkan tempat untuk bermalam di pinggir sebuah sungai, Pangeran Makhdun Kusen memerintahkan satri putrinya untuk membunyikan rebana. Pangeran Makhdun Kusen sendiri masuk kedalam kamar dan shalat hajat, mohon perlindungan Allah dari serangan prajurit Sunda.

Inilah salah satu “kesaktian” Pangeran Makhdun Kusen, begitu rebana ditabuh, maka bersamaan dengan bunyi rebana, terdengar pula bunyi dengung yang lain. Ternyata itu adalah bunyi ribuan tawon gung yang seakan keluar dari kamar Pangeran Makhdun Kusen. Ribuan tawon terbang dan menyerang para prajurit Sunda. Terjadilah pertempuran anatara tawon gung dengan prajurit Sunda. Tengah malam para prajurit baru mampu mengalahkan serangan tawon.

Mereka sadar tawon gung ini adalah bagian dari kesaktian Pangeran Makhdun Kusen. Kesadaran itulah yang menjadikan mereka lebih hati-hati saat menyerang Rajawana pada pagi harinya. Serangan pagi harinya membuat para sahabat Pangeran Makhdun Kusen  dan santri Rajawana kewalahan. Pangeran Makhdun Kusen pun berdoa kembali, mohon pertolongan Allah. Ajaib, tidak lama kemudian tiba-tiba ada jin besar yang segera mengamuk, memporak-porandakan prajurit Sunda. Pimpinan prajurit Sunda pun memerintahkan seluruh prajuritnya untuk mundur dan kembali ke Sunda.

Kemenangan tersebut membuat beberapa santri putri mengalami eforia, mereka menabuh rebana dan bernyanyi-nyanyi. Maka sejak saat itu santri putri memiliki kegiatan baru yaitu menabuh rebana dengan diiringi nyanyian yang bernafaskan Islam. Belakangan kesenian ini disebut dengan nama “Braen”. Kini menjadi kesenian khas Pekiringan.

Kedamaian di Rajawana membuat kehidupan Pangeran Makhdun Kusen semakin bahagia. Para wali di pusat kerajaan Majapahit pun meneruh perhatian lebih terhadap wilayah Cahyana. Pangeran Makhdun Kusen memiliki seorang putra, yaitu Pangeran Makhdun Jamil.

Ceritera tentang empat orang wali yaitu Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus dan Sunan Gunungjati yang sempat mengadakan kunjungan kerja ke Wilayah Purbalingga, di saat reses, tidak ada sidang.

Tercatat bahwa pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh Nusantara surut. Menjelang berdirinya Kerajaan Demak pengaruh para wali dan penyebar Agama Islam justru semakin berperan. Agama Islam merata di Pulau Jawa. Setelah Cahyana di Gunung Munggul, maka terceriterakan pula bahwa, sedikitnya, ada satu tempat lagi yang dijadikan sebagai basis perkembangan Islam pada masa itu, yaitu di Onje. Di Onje telah berdiri semacam pesantren dengan tokoh legendaris penyebar Agama Islam bernama Syeh Syamsudin.

Konon Syeh Syamsudin, dalam pengembaraannya menuju Cahyana ia sempat menemukan tempat yang menurutnya sangat ideal untuk mesu diri, olah jiwa berpasrah diri kepada Yang Maha Kuasa. Ia menemukan bahwa di barat sungai besar ada tempat  pertemuan tiga buah sungai. Tiga sungai yang sangat jernih bergabung menjadi satu, dan tidak jauh kemudian gabungan sungai itu pun bermuara di Bengawan Klawing.

Begitu terpesona dengan suasana di tempat tersebut, Syeh Syamsudin pun beristirahat dan melaksanakan sholat di pinggir sungai. Kemudian beliau berkehendak untuk mendirikan sebuah masjid. Arah hadap sholat, kiblat, pun diumumkan, “Jika kita di sini cukup menghadap Gunung Gora (Gunung Slamet, Gora = Agung) maka itulah arah hadap sholat kita” artinya bahwa Gunung Gora kebetulan searah dengan arah terbenamnya matahari, searah pula dengan arah Baitullah. Pada jaman dahulu, sungai, gunung, pegunungan, dan benda di langit merupakan petunjuk geografi yang paling utama.

Maka dengan tiang, empat batang pohon pakis dan atap ijuk, berdirilah sebuah masjid di dekat pertemuan tiga sungai. Sebagai tempat pengimaman, dibuat dari sebuah batu yang datar. Sejak saat itu berdirilah semacam pesantren di Onje.

Keberadaan Cahyana di samping diketahui oleh pihak kerajaan, tentu saja diketahui oleh para wali di Majapahit. Kegagalan serangan pasukan Raja Sunda terhadap Pangeran Makhdun Kusen menjadikan Cahyana makin dikenal oleh para wali. Sama halnya dengan Cahyana, keberadaan Masjid Onje juga diketahui para wali.

Maka dikisahkan bahwa empat orang wali, yaitu Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati, suatu waktu sempat berkunjung ke Cahyana. Kehadiran mereka adalah untuk menghormati Syeh Jambukarang yang sudah kembali ke rakhmat Allah. Syeh Jambukarang sudah dimakamkan di salah satu Puncak Gunung Munggul. Kini di sebut Ardi Lawet.

Para wali berpesan agar pemakaman para leluhur hendaknya dihormati dan dirawat dengan baik. Dijanjikan juga bahwa berdasarkan kemajuan Cahyana maka pada saatnya tentu wilayah ini akan mendapat perhatian khusus dari pihak istana.

Setelah dari Cahyana para wali, berempat, ternyata berkenan untuk berkunjung ke Onje. Alkisah, ketika di Onje, karena melihat bangunan masjid yang sangat sederhana, keempat wali itu sepakat, memperbaiki masjid. Maka, di antaranya, dengan dibantu oleh cucu Pangeran Makhdun Kusen dari Cahyana, yakni putra dari Pangeran Makdun Jamil, tiang penyangga Masjid Onje yang tadinya menggunakan batang pakis diganti dengan menggunakan kayu jati. Dan tiang kayu jati inilah yang diyakini hingga kini masih asli. Sampai sekarang masih utuh.

Alhamdulillah, ternyata hasil karya para wali, termasuk Sunan Kalijaga pun sempat ada di wilayah Purbalingga!

Setelah memperbaiki Masjid Onje, empat wali tersebut terinspirasi untuk memperbaiki sebuah masjid yang berusia sekitar sepuluh tahun, di Demak. Masjid yang didirikan oleh Sunan Ampel, bentuknya hanya berupa bangunan pondok pesantren, dikenal dengan nama Pondok Pesantren Glagahwangi. 

Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati, segera pergi ke Demak, dan dibantu oleh para wali yang lain, mulai merenovasi masjid pesantren Glagahwangi. Lama memperbaiki masjid Glagahwangi itu dua tahun. Sesuai dengan candrasengkala (candra = bulan, sengkala = hitungan waktu; artinya waktu yang dihitung berdasarkan peredaran bulan) yang ada pada masjid yaitu: “Lawang Trus Gunanning Janma”, yang berarti tahun Saka 1399 atau tahun Masehi 1477, tahun itulah pertama kali masjid direnovasi, dan kelak kemudian, dikenal dengan nama Masjid Agung Demak.

Menyimak ceritera di atas maka sewajarnyalah kita berpendapat bahwa masjid di Desa Onje itu usianya lebih tua dari Masjid Agung Demak. Dan sudah sewajarnya masjid itu termasuk benda cagar budaya, kekayaan Purbalingga, yang wajib kita lindungi keberadaannya.

Jika ke Onje, di gerbang yang melengkung, di depan mesjid, tertulis Masjid R. Sayyid Kuning. Lho kok, Masjid R. Sayyid Kuning, bukan Masjid Agung Onje? Kenapa?

Sekedar info bahwa di Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, ternyata dikenal sebagai pusat pelestarian ajaran Tarikat Islam Aboge. Menurut ceritera Ajaran Islam Aboge kali pertama diperkenalkan oleh Raden Ngabdullah Syarif Sayyid Kuning. Itulah ceritera mengapa ada tulisan R. Sayyid Kuning.


Pangeran Wali Prakosa  adalah canggah Syeh Jambukarang yang dimakamkan di Ardi Lawet, Gunung Munggul!  Buyutnya Syeh Wali Rahmat (Syeh Atas Angin). Beliau adalah cucu Pangeran Makhdun Kusen. Putra Pangeran Makhdun Jamil di Bumi Cahyana, Karangmoncol, Purbalingga. Pangeran Wali Prakosa, lebih kesohor dari pada kakaknya yang bernama Pangeran Makhdum Tores.

Terceriterakan pada suatu hari Pangeran Makhdum Tores minta kepada adiknya agar segera pergi ke Kerajaan Demak, harus melapor karena takut, ada kemungkinan wilayah Cahyana akan diambil alih oleh Kerajaan Sunda. Pangeran Makhdum Prakosa pun segera ke Demak menghadap Sultan Trenggana.

Sesampainya di kasultanan ia diterima oleh seorang penghulu khalipah yang bernama, Kusen. Dalam catatan babad, Pangeran Wali Prakosa saat itu disebut sebagai “kaum pengalasan kilen”, maksudnya santri dari daerah hutan wilayah barat.

Setelah bertemu dengan Sultan ia pun ditanya asal-usulnya, Pangeran Wali Prakosa menjawab bahwa ia berasal dari Jiyana. Sang Sultan tidak mengenal Jiyana tapi kalau yang dimaksud Cahyana, Sultan mengenalnya. Para wali setelah berkunjung ke Cahyana dan Onje menceriterakannya ke Sultan. Pangeran Wali Prakosa membenarkan dia berasal dari Cahyana yang dimaksud dan yang membantu para wali saat mengganti tiang dan memperbaiki Masjid Onje.

Sultan sangat berkenan dengan kemampuan Pangeran Wali Prakosa maka ia diminta untuk ikut membantu pembangunan Masjid Demak, saat itu kebetulan masjid kekurangan satu tiang utama, saka guru. Pangeran Wali Prakosa disarankan untuk menemui Sunan Kalijaga agar dapat melangkapi kekurangan saka guru tersebut.

Alkisah, sesungguhnya saat itu Sunan Kalijaga sedang bersemedi di Giri Malaka. Namun karena kewaskitaannya ia mampu menangkap kehendak Sultan Trenggana dan Pangeran Wali Prakosa yang ingin menemuinya. Sunan Kalijaga segera bangun dan melakukan perjalanan sehari semalam untuk sampai di Demak. Kemudian bertemu disekitar istana dengan Pangeran Wali Prakosa yang saat itu masih dipanggil Pangeran Makhdum.

“Lho, apa yang ditugaskan oleh Kanjeng Sultan?” tanya Sunan Kalijaga
“Saya diberi tanggung jawab satu tiang utama untuk Masjid Demak, dan menemui Kanjeng Sunan Kalijaga!” jawab Pangeran Wali Prakosa. Keduanya sepakat tidak usah mencari kayu jati ke hutan. Tapi akan membuat tiang dari bahan yang tersisa saja.
“Baiklah, saya yang akan membantu mengatur dan menghaluskan pekerjaan membuat satu tiang tersebut!” kata Sunan Kalijaga.
Maka bekerjalah dua orang tersebut. Mengumpulkan tatal, potongan-potongan kayu jati yang tidak terpakai, lalu disusun menjadi balok panjang, dihaluskan dan jadilah salah satu tiang Masjid Demak yang paling unik, yang disebut saka tatal.

Pada akhirnya Masjid Demak pun dianggap sudah siap diresmikan penggunaannya. Namun di saat fajar, menjelang shalat shubuh, Sunan Bonang terkesiap, ketika memperhatikan bayangan masjid di bawah langit pada pagi buta saat itu. Tampak jelas bahwa bangunan masjid ternyata miring, dhoyong, atau tidak tegak benar. Para wali kebingungan. Tidak mungkin dibongkar ulang, sehingga merasa bahwa pekerjaan menegakkan bangunan agar tegak, bukan pekerjaan yang mudah. Ketika masing-masing wali berteori cara menegakkan bangunan, Pangeran Wali Prakosa dengan sopan mengusulkan, agar menggunakan cara yang paling efisien.

“Apa saranmu, anak Cahyana?” pertanyaan Sunan Bonang. Para wali dan Sultan Trenggana menatap Pangeran Wali Prakosa dengan penuh harap.

“Jika berkenan biarlah hamba jadi palu, sedang Kanjeng Sultan dan para Wali menjadi gandennya. Insya Allah masjid dapat menjadi tegak!” kata Pangeran Wali Prakosa.

Sunan Bonang, para Wali dan Sultan Trenggono terdiam. Suasana demikian hening. Masing-masing berpikir yang dimaksud dengan palu dan ganden. Palu adalah alat pemukul yang dibuat dari besi, sedang ganden terbuat dari kayu.
“Apa yang kau maksudkan, Makhdum?” tanya Sultan Trenggana.
“Bila Paduka berkenan, para wali yang berdoa, nanti hamba yang mengamini. Semoga Allah mengabulkan” jawab Pangeran Wali Prakosa sopan.
“Baiklah mari kita lakukan” jawaban Sultan dan kemudian mengajak semua yang ada hadir untuk terlibat. Para wali menenmpatkan diri di depan, dan mengucapkan doa dipimpin Sunan Bonang. Pangeran Wali Prakosa di belakang mengamini. Namun setelah beberapa lama ditunggu ternyata kondisi masjid masih tetap dhoyong.
“Bagaimana, Makhdun?” pertanyaan Sultan seakan minta penjelasan dengan tegas.
“Ampun Sinuhun, kalau Kanjeng Sultan berkenan, ijinkan hamba yang berdoa, sedang para wali dan yang hadir yang mengamini. Insya Allah masjid dapat tegak!”
Sultan Trenggana dengan kebesaran hatinya, percaya akan kemampuan “kaum pengalasan kilen” ini, sehingga Sultan pun segera memberi restu.
Konon Pangeran Wali Prakosa meminta para wali, di saat mengamini doanya sambil memegang saka guru buatan masing-masing. Luar biasa! Tanpa terasa prosesnya, namun terbukti faktanya. Masjid ternyata telah berdiri tegak sesuai yang dikehendaki. Semua mengucapkan alhamdulillah, puji syukur kepada Allah Yang Maha Perkasa.
“Keperkasaan kami berkat doamu, Makhdun. Maka kau kuberi gelar Wali Prakosa. Dan kau kutugaskan untuk melanjutkan, meng-Islam-kan para kawula di lereng BUkit Cahyana!” kata-kata Sultan, memberi gelar dan tugas kepada Pangeran Wali Prakosa. Dan sejak saat itulah nama Pangeran Makhdun Wali Prakosa menjadi gelar putra Cahyana ini.
Sultan merasa sangat senang dengan kemajuan wilayah Cahyana dan kemampuan Pangeran Wali Prakosa sehingga Sultan secara resmi memerdekakan Cahyana dari memberikan pajak terhadap negara. Seluruh pendapatan Cahyana diijinkan untuk kepentingan penyebaran Agama Islam dan merawat makam leluhur. Cahyana adalah bagian dari Kerajaan Demak, dan menjadi tanah perdikan. Bunyi piagam yang terdokumentasi kurang lebih berbunyi seperti ini:
“Penget layang kang idi Pangeran Sultan ing Demak. Kagaduha dening Mahdum Wali Prakosa ing Cahyana. Mulane anggaduha layang ingsung dene angrowangi amelar tanah. Sun tulusaken Pamardikane pesti lemah Perdikane Allah tantaha ana angowahana ora sun wehi suka halal dunya aherat. Anaa anak putu aba aniaya. Mugaa kena gutuking Allah  lan olia bebenduning para wali kang ana ing Nusa Jawa. Estu yen peperdikane Allah”

Menyimak kalimatnya berarti Sultan Trenggana menilai bahwa Cahyana telah membantu meluaskan wilayah Demak. Dan barang siapa yang mengubah surat keputusan tersebut, ora sun wehi (baca: dikutuk) kebahagiaan yang khalal di dunia dan akherat, juga akan dikutuk Allah, dan oleh para wali yang ada di Pulau Jawa. Peringatan keras Sultan Trenggana terhadap pelanggaran surat keputusan tadi.

Kesimpulannya sederhana. Menurut Babad Cahyana ini ternyata yang membuat tiang tatal bukanlah Sunan Kalijaga, tapi Pangeran Wali Prakosa, “insinyur bangunan” dari Cahyana, Purbalingga. Sunan Kalijaga hanya mengatur dan membantu. Sultan Trenggana, dan lingkungan istana sebagai pusat pemerintahan, sangat menghargai kemampuan dan potensi wilayah Cahyana.

Kini berceritera tentang Pangeran Wali Makhdum Cahyana. Konon Pangeran Wali Makhdum Cahyana ini adalah keturunan Sunan Ampel di Ampeldenta, Surabaya, Jawa Timur. Sunan Ampel adalah wali yang sangat dihormati oleh para pejabat kerajaan Demak Bintara dan dihormati pula oleh para wali.

Raden Patah, Sultan Kerajaan Demak Bintara, mempunyai istri yang bernama Nyai Ageng Maloka, ia adalah cucu Sunan Ampel.  Istri Sunan Kalijaga pun adalah cucu Sunan Ampel. Putri Sunan Ampel yang bernama Siti Murtosiyah diperistri oleh Sunan Giri. Dengan demikian wajar betapa bermartabatnya Sunan Ampel di hadapan para wali dan pejabat kerajaan pada saat itu.

Dikisahkan dua orang cucu dari Sunan Ampel, yang laki-laki, sebut saja Pangeran Nurcahya dan yang perempuan Putri Aini. Keduanya dari Ampeldenta, berniat menunaikan ibadah haji ke Mekkah, Tanah Arab. Dalam perjalanannya, kedua cucu Sunan Ampel ini berniat untuk singgah dahulu di Cirebon. Di samping menambah bekal ilmu keislamannya juga sekalian ingin berpamitan dengan para kerabat Kasultanan Cirebon. Maka ketika kapal yang membawanya sampai di Cirebon, Pangeran Nurcahya dan Putri Aini ini menghadap Sultan Cirebon. Keduanya menetap beberapa hari di Cirebon. Dalam waktu yang singkat itu, ternyata Sultan Cirebon terpesona oleh kecantikan Putri Aini. Kharisma Sunan Ampel juga menjadikan Sultan Cirebon bermaksud memperistri Putri Aini. Dalam waktu dekat, Putri Aini pun menjadi istri Sultan Cirebon. Kini dengan status sang putri sebagai istri sultan menjadi kendala niat niat Pangeran Nurcahya dan Putri Aini untuk naik haji.

Demikianlah barangkali karena perkenalan yang terlalu singkat. Pernikahan Putri Aini dengan Sultan Cirebon tidak berlangsung lama. Kebahagiaan tak didapat, derita batin menjadi siksaan raga. Diceriterakan bahwa pada suatu malam karena kejadian yang tidak menyenangkan, menjadikan Putri Aini keluar dari Kasultanan Cirebon. Malam itu juga Pangeran Nurcahya dan Putri Aini meloloskan diri. Keduanya keluar secara diam-diam menembus malam.

Tanpa bekal yang cukup keduanya masuk keluar hutan. Berjalan ke arah timur dan kemudian mengikuti kata hati meneruskan perjalanan ke arah selatan. Berhari-hari perjalanan menembus hutan. Pangeran Nurcahya berjalan di depan, ia membuka dan membuat jalan. Hutan lebat ditembusnya. Tidak heran jika ia terkena duri di seluruh badannya. Luka terkena duri, menabrak miang, terantuk batu, dan jatuh tersungkur menjadi ujian baginya. Luka diseluruh tubuhnya menjadi koreng, kulit bernanah dan mengelupas di sana-sini.

Takdir membawa Pangeran Nurcahya dan Putri Aini sampai di Tanah Perdikan Cahyana. Saat itu sesepuh Perdikan Cahyana adalah Pangeran Makhdun Wali Prakosa. Dengan rasa prihatin diterimanya Pangeran Nurcahya dan Putri Aini yang saat itu tampak sebagai orang kabur kanginan, orang yang tidak punya identitas jelas.

Kemudian beliau berguru, menjadi santri dari Pangeran Makhdum Wali Prakosa. Orang Cahyana melihat badan Pangeran Nurcahya yang penuh luka, penuh dengan koreng, dikatakannnya gudigen. Gudig adalah istilah untuk orang yang kulitnya menderita gatal. Ketika digaruk umumnya menimbulkan luka. Hal seperti itulah yang dimaksud gudigen. Setelah diangkat menjadi santri, Pangeran Nurcahya, mendapat julukan sebagai Santri Gudig. Santri Gudig belajar keislaman di Masjid Pekiringan.
Masjid Pekiringan, kini disebut Masjid Jami’ Wali Perkasa. Masjid ini didirikan oleh Pangeran Makhdun Wali Prakosa, segera setelah pulang dari Demak. Di Demak Pangeran Makhdun Wali Prakosa ikut membangun masjid Agung Demak, bahkan dikisahkan beliaulah yang sebenarnya membuat saka tatal. Dengan demikian Masjid Jami’ Wali Perkasa ini diyakini bahwa usianya hampir sama dengan Masjid Agung Demak yang dibangun sekitar tahun 1420. Walau sudah sembuh namun Pangeran Nurcahya tetap dikenal dengan panggilan Santri Gudig. Ia menjadi santri yang cakap, sopan dan patuh pada guru. Maklum ia adalah cucu Sunan Ampel, maka dalam olah sastra dan kanuragan menjadi lebih menonjol dibandingkan dengan santri yang lain. Pangeran Makhdun Wali Prakosa sayang sekali kepadanya. Kain yang dipakai tidur Pangeran Nurcahyo pada suatu malam bercahaya-cahaya seperti ada apinya. Hal tersebut diketahui oleh Pangeran Makhdun Wali Prakosa yang kemudian berkenan untuk menjadikannya sebagai menantunya. Ia dinikahkan dengan putri beliau yang bernama Pangeran Estri. Santri Gudig pada akhirnya dikenal dengan nama Pangeran Makhdun Wali Cahyana dan diserahi tugas untuk memimpin Tanah Perdikan Cahyana. Dalam keseharian Pangeran Wali Makhdum Cahyana dikenal sebagai orang yang memiliki keahlian luar biasa saat menangkap ikan. Beliau juga dikenal juga ahli dalam bidang pertanian, sehingga hasil pertaniannya luar biasa baiknya, keahlian ini diajarkannnya kepada masyarakat Cahyana. Beliau membuat lumbung padi untuk mengumpulkan padi zakat untuk dibagikan ke yang ber hak. Keahlian yang secara tidak sengaja disaksikan oleh masyarakat Cahyana adalah belia mempunyai ilmu rahasia untuk menghilang saat ada musuh. Lalu ketika membuat lantai rumah beliau pergi ke sungai dengan membawa sepotong ranting daun waru yang dijadikan cambuk, ia menggiring batu-batu kali yang berjalan bagai hewan ternak, lalu menyusun diri untuk menjadi lantai rumah. Luar biasa.

Sumber : berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar