Rabu, 07 Maret 2012

Berlapang dada, keutamaan dari memaafkan..

Assalamu’alaikum wr.wb.
Ada dua buah kata sakti di dunia ini yang manakala seseorang benar-benar tulus dalam pengucapan dan penerapannya niscaya kedamaian di dunia akan selalu terjaga, dua kata tersebut yaitu Maaf dan Terima Kasih. Kali ini saya akan sedikit memberi kajian mengenai kata yang pertama yaitu Maaf.
Manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah terlepas dari kesalahan. Kesalahan pada teman, adik, anak pada orang tuanya, bahkan sebaliknya orang tua kepada anaknya. Sudah sepatutnyalah apabila kita melakukan kesalahan harus meminta maaf kepada yang bersangkutan. Jika berdosa pada Allah maka kepadanyalah kita memohon maaf dan ampunan, sedangkan jika kita bersalah pada manusia maka kepada manusia pula kita meminta maaf. Ketahuilah, bahwa Allah tidak memaafkan kesalahan antara manusia sebelum diantara mereka saling memaafkan.
Sekilas memang terkesan mudah meminta maaf. Tetapi apabila kita dalam kondisi sama-sama merasa benar, atau bahkan sedang terjepit suatu masalah yang pelik, tidak jarang kita saling menyalahkan, bahkan mencari kambing hitam terhadap kesalahan kita, yang akhirnya berujung pada pertikaian.
Disinilah kata maaf sangat berperan, semudah itukah? tidak ! sangat susah dan berat untuk diucapkan, baik bagi yang meminta maaf apalagi yang harus memaafkan. Hendaknya seorang muslim mengetahui bahwa dengan memberikan maaf ia akan mendapatkan kemuliaan dari Allah, dan semua orang akan menghormatinya serta orang yang menjelekkan akan datang kepadanya untuk meminta maaf.Dan apabila suatu waktu kita dizhalimi orang lain sesungguhnya Allah memperbolehkan untuk menuntut keadilan, tetapi menawarkan yang terbaik. Ada pahala dari Allah serta keutamaan memaafkan dan kesabaran.
Sebenarnya apakah arti maaf itu, bagaimanana caranya, dan dalam konteks seperti apa?
Semua pertanyaan diatas dapat terjawab hanya dengan mempelajari dan mencontoh perilaku nabi Muhammad SAW. Misalnya saja dalam salah satu kisah nabi Muhammad SAW pada saat beliau dihina bahkan diludahi oleh seorang wanita tua setiap kali lewat di depan rumahnya. Hingga suatu saat diketahui bahwa wanita tersebut sakit, justru beliaulah orang yang pertama kali menjenguknya. Akhirnya dengan berlinangan air mata wanita tua tersebut memeluk agama islam saat itu juga.
Subhanallah, sungguh telah ada dan nyata suri tauladan bagi kita semua sejak awal kejayaan islam berdiri. Kita hanya cukup meneladani dan mencontohnya saja. Suatu waktu dizhalimi, maka saat itu juga beliau memaafkannya. Apakah kita mampu? jawabnya harus mampu.
Jadi arti maaf yang sebenarnya itu bersumber dalam hati, cukup simpel dan sederhana. Prinsipnya, “Jika berbuat salah segeralah meminta maaf, sebaliknya jika orang lain bersalah segeralah dimaafkan“. Pahit memang, tapi itulah ujian dunia, adalah tugas kita untuk lulus dalam ujian ini.
Meminta maaflah dengan cara yang santun agar orang lain pun mudah memafkan kita. Dan maafkanlah kesalahan orang lain tanpa harus merendahkan harga dirinya.
Apakah hanya sampai disitu saja?, masih ada lagi, untuk beberapa kondisi kita harus tegas terhadap adanya penyimpangan, terutama yang dilarang Allah. Sekedar memamafkan saja rasanya kurang cukup, tetapi berilah hukuman sebagai ganjaran atas perbuatannya agar memiliki efek jera. Makna dari memaafkan yang pertama yaitu, memberi maaf, berarti ‘menghapus’ atau ‘menghilangkan luka-luka lama yang ada dalam hati’. Untuk itu, tidak disebut memberi maaf manakala masih tersisa ganjalan, apalagi dendam yang membara dalam hati.
Kedua, yaitu berlapang dada, bersikap lapang dada untuk menutup lembaran-lembaran lama dan membuka serta mengisi lembaran yang baru.
Kendala terbesar bagi seseorang yang meminta maaf pada umumnya adalah gengsi pribadi. Ego telah menutup kejernihan hati seseorang untuk berbuat baik. Begitupun bagi orang yang dimintai maaf, besarnya kesalahan dan sakitnya hati yang terluka, lebih sulit rasanya untuk memberi maaf kepada orang tersebut. Diperlukan peran besar dari kedua belah pihak untuk berlapang dada dan berjiwa besar. Memafkan akan membuat hati kita lapang.
Oleh karena itu, mulai detik ini, di bulan suci ini, adalah kesempatan kita untuk instropeksi diri, memperbaiki diri, dan mengevaluasi kelemahan dan kekurangan masing-masing hingga tiba hari kemenangan, Hari Raya Iedul Fitri.
Minal ‘aidin wal fa’idzin, mohon maaf lahir dan batin.
Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar