Assalamu’alaikum wr.wb.
Ada dua buah kata sakti di dunia ini yang manakala seseorang
benar-benar tulus dalam pengucapan dan penerapannya niscaya kedamaian di
dunia akan selalu terjaga, dua kata tersebut yaitu Maaf dan Terima
Kasih. Kali ini saya akan sedikit memberi kajian mengenai kata yang
pertama yaitu Maaf.
Manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah terlepas dari kesalahan.
Kesalahan pada teman, adik, anak pada orang tuanya, bahkan sebaliknya
orang tua kepada anaknya. Sudah sepatutnyalah apabila kita melakukan
kesalahan harus meminta maaf kepada yang bersangkutan. Jika berdosa pada
Allah maka kepadanyalah kita memohon maaf dan ampunan, sedangkan jika
kita bersalah pada manusia maka kepada manusia pula kita meminta maaf.
Ketahuilah, bahwa Allah tidak memaafkan kesalahan antara manusia sebelum
diantara mereka saling memaafkan.
Sekilas memang terkesan mudah meminta maaf. Tetapi apabila kita
dalam kondisi sama-sama merasa benar, atau bahkan sedang terjepit suatu
masalah yang pelik, tidak jarang kita saling menyalahkan, bahkan
mencari kambing hitam terhadap kesalahan kita, yang akhirnya berujung
pada pertikaian.
Disinilah kata maaf sangat berperan, semudah itukah? tidak ! sangat
susah dan berat untuk diucapkan, baik bagi yang meminta maaf apalagi
yang harus memaafkan. Hendaknya seorang muslim mengetahui bahwa dengan
memberikan maaf ia akan mendapatkan kemuliaan dari Allah, dan semua
orang akan menghormatinya serta orang yang menjelekkan akan datang
kepadanya untuk meminta maaf.Dan apabila suatu waktu kita dizhalimi
orang lain sesungguhnya Allah memperbolehkan untuk menuntut keadilan,
tetapi menawarkan yang terbaik. Ada pahala dari Allah serta keutamaan
memaafkan dan kesabaran.
Sebenarnya apakah arti maaf itu, bagaimanana caranya, dan dalam konteks seperti apa?
Semua pertanyaan diatas dapat terjawab hanya dengan mempelajari dan
mencontoh perilaku nabi Muhammad SAW. Misalnya saja dalam salah satu
kisah nabi Muhammad SAW pada saat beliau dihina bahkan diludahi oleh
seorang wanita tua setiap kali lewat di depan rumahnya. Hingga suatu
saat diketahui bahwa wanita tersebut sakit, justru beliaulah orang yang
pertama kali menjenguknya. Akhirnya dengan berlinangan air mata wanita
tua tersebut memeluk agama islam saat itu juga.
Subhanallah, sungguh telah ada dan nyata suri tauladan bagi kita
semua sejak awal kejayaan islam berdiri. Kita hanya cukup meneladani dan
mencontohnya saja. Suatu waktu dizhalimi, maka saat itu juga beliau
memaafkannya. Apakah kita mampu? jawabnya harus mampu.
Jadi arti maaf yang sebenarnya itu bersumber dalam hati, cukup
simpel dan sederhana. Prinsipnya, “Jika berbuat salah segeralah meminta
maaf, sebaliknya jika orang lain bersalah segeralah dimaafkan“. Pahit
memang, tapi itulah ujian dunia, adalah tugas kita untuk lulus dalam
ujian ini.
Meminta maaflah dengan cara yang santun agar orang lain pun mudah
memafkan kita. Dan maafkanlah kesalahan orang lain tanpa harus
merendahkan harga dirinya.
Apakah hanya sampai disitu saja?, masih ada lagi, untuk beberapa
kondisi kita harus tegas terhadap adanya penyimpangan, terutama yang
dilarang Allah. Sekedar memamafkan saja rasanya kurang cukup, tetapi
berilah hukuman sebagai ganjaran atas perbuatannya agar memiliki efek
jera. Makna dari memaafkan yang pertama yaitu, memberi maaf, berarti
‘menghapus’ atau ‘menghilangkan luka-luka lama yang ada dalam hati’.
Untuk itu, tidak disebut memberi maaf manakala masih tersisa ganjalan,
apalagi dendam yang membara dalam hati.
Kedua, yaitu berlapang dada, bersikap lapang dada untuk menutup
lembaran-lembaran lama dan membuka serta mengisi lembaran yang baru.
Kendala terbesar bagi seseorang yang meminta maaf pada umumnya
adalah gengsi pribadi. Ego telah menutup kejernihan hati seseorang untuk
berbuat baik. Begitupun bagi orang yang dimintai maaf, besarnya
kesalahan dan sakitnya hati yang terluka, lebih sulit rasanya untuk
memberi maaf kepada orang tersebut. Diperlukan peran besar dari kedua
belah pihak untuk berlapang dada dan berjiwa besar. Memafkan akan
membuat hati kita lapang.
Oleh karena itu, mulai detik ini, di bulan suci ini, adalah
kesempatan kita untuk instropeksi diri, memperbaiki diri, dan
mengevaluasi kelemahan dan kekurangan masing-masing hingga tiba hari
kemenangan, Hari Raya Iedul Fitri.
Minal ‘aidin wal fa’idzin, mohon maaf lahir dan batin.
Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar